TAGS: bangku pelosokeksyarIPImpipaitbi

bazar BP

Kegiatan Bazar Dialog ini dilaksanakan oleh Komunitas Bangku Pelosok (Komunitas volunteer) pada malam hari, 07 april 2019 dengan tema “Ekosistem Pendidikan Di Ranah Sosial Budaya”. Bazar dialog ini berlangsung di cafe Bugis (Katangka) dan dihadiri oleh beberapa komunitas volunteer (tamu undangan) lainnya salah satunya Komunitas Pajappa Bangkeng.

Salah satu tujuan tema yg menarik diatas juga bahwa kesadaran akan hal Pendidikan di Indonesia itu belum merata, dan keterkaitannya dengan budaya makin tergerus oleh adanya kecanggihan teknologi dan masuknya budaya asing.

Tema tersebut dibedah oleh dua pemateri yang sangat luar biasa yaitu Damar Tri Afrianto, S.Sn.,M.Sn. , seorang dosen Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Sulsel dan Aminah, S.Pd.I., M.Pd. selaku dosen Institut Parahikma Indonesia (IPI) Gowa.

Pada kesempatan ini, Damar menyampaikan bahwa budaya bisa diintegrasikan dengan pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah agar budaya lokal tetap terjaga. Karna pada dasarnya tiap mata pelajaran bisa memperkenalkan budaya daerah, bukan hanya di bidang seni dan budaya saja. Contohnya, pada pelajaran sejarah, bukan hanya diajar siapa tokoh dan tahun kejadiannya, melainkan memperkenalkan budaya daerah tentang “apa dan mengapa hal tersebut terjadi” di masa lalu. Mengapa negara lain mencaplok budaya kita, salah satunya adalah karena kita kurang bangga dengan budaya kita sendiri, tambahnya.

Sementara itu, Aminah mengutip pendapat Einstein “Educating mind without educating heart is no education at all”, yang maknanya adalah mendidik akal tanpa mendidik moral anak bangsa, tidak bisa disebut sebagai pendidikan. Pendidikan bukan hanya dibatasi lingkup kelas, tapi juga penanaman nilai kemannusiaan serta kemuliaan pada tiap individu. Banyak negara besar namun “tidak terdidik” karna carut marutnya karakter atau mengalami degradasi moral.

Bazar BP 3
Sebagian kecil peserta bazar dialog Bangku Pelosok

Jadi kita musti ”think out of the box” mengenai pendidikan ini. Pendidikan tidak dinilai dari canggihnya fasilitas saja, atau mewahnya ruangan kelas. Untuk apa fasilitas pendidikan canggih dan mahal, tapi karakter bobrok dan tingkat bunuh diri serta kenakalan remaja meningkat? Hal substansial dari sebuah pendidikan adalah penanaman nilai peradaban mulai dari keluarga, sekolah, hingga interaksi masyarakat. Langkah volunteer bangku pelosok ini adalah ibarat pendidik yang bergerak seperti akar pohon yang tak terlihat namun manfaatnya bisa dirasakan oleh sekitarnya,  ujar Aminah yang juga kerap kali diundang menjadi pemantik seputar feminisme, kebangsaan, dan pendidikan ini.

Sebagai negara yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika, kita harus menjaga prinsip dan ideologi bangsa itu. Menjaga local wisdom dan memfilter budaya asing yang masuk ke negara kita adalah tanggung jawab bersama. Ada banyak event kebudayaan yang bisa dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, serta lembaga pendidikan untuk menjaga kelestarian budaya seperti pengadaan karnaval, lomba tari, dan pengenalan literatur daerah, tambah Aminah.

 

Penulis: Nurisnawiyah (UKM JPC)

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.