prof azhar di inggris 3
Foto bersama usai memberi perkuliahan mahasiswa University of East London

Menjadi Visiting Professor di beberapa negera adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh Rektor IPI, Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A. Dari lebih 32 negara, kali ini Inggris menjadi tujuan negara dimana beliau menjadi Visiting Professor dan Observer dalam meneliti pentingnya bahasa inggris, inner capacity, serta Online System  (trilogy system) untuk berkiprah pada rana akademis dan berkompetisi di era digital sekarang ini.

Di sela-sela kesibukannya, Rektor IPI tersebut menyempatkan diri untuk mengabari kami yang ada di tanah air Indonesia, tentang perkembangan penelitian serta pengajaran beliau di salah satu kampus di Inggris, dengan berkantor di lantai III gedung School of Technology and Innovation University of East London (UEL). Kampus University of East london ini berada di Pusat kota London dikitari oleh sungai terkenal Themes dan disebelahnya ialah salah satu bandara antar negara Eropa. Kunjungan kali ini bekisar satu bulan, sejak seminggu yang lalu.

Saya mewawancarai beberapa Professor dan ternyata IPI is on the right track dalam berpandangan bahwa di zaman milenial ini yang paling mendasar dan penting adalah penguasaan bahasa Inggris dan computer literacy termasuk di dalamnya online system. Mereka juga sepakat bahwa di era milenial ini semua muatan mata kuliah ada dalam google termasuk fisika, kedokteran, agama, apalagi sosial. Sehingga kita harus lakukan transformasi secepat dan sesegera mungkin, paparnya.

Beliau juga menambahkan bahwa kita tidak boleh lagi mengajar hanya bahan-bahan yang pernah diajarkan guru dosen pendahulu yang hidup di zaman enam tujuh tahun yang lalu. IPI itu harus keep up with the Joneses. Mata kuliah agamapun harus fokus kepada value nya yaitu “innamaa buitstu liutammima makaarima al akhlaaq“, waktu Rasulullah mengajarkan kepada umatnya peetama kali tanpa di otak atik oleh ilmu-ilmu alat dan perbincangan agama yang berbelit-belit makan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan dana. Semua hal tersedia di internet.

prof azhar di inggris 4
Berisitirahat di kantor gedung lantai III UEL disela rutinitas

Sisanya yang belum ada itulah F2F. Itupun juga hanya dalam rangka praktek nilai nilai dalam keseharian, seperti kejujuran, loyalitas, amanah, dan fathanah atau wisdomic. Anak anak kita harus punya skill. Tapi dosen dan pegawai harus punya skill duluan. Persaingan masa depan akan dimenangkan oleh yang punya skill bahasa Inggris, komputer dan kedisiplinan tinggi, kesungguhan dan kerja keras, bukan asalan asalan. Ini butuh perjuangan, Prof. Azhar menambahkan.

Apa yang terjadi di negara kita, contohnya dalam penyebaran informasi yang mengandung hatespeech maupun hoax, adaalah contoh dari sikap non ilmiah kita. Di masa sekarang, kita harus fokus mencerdaskan peserta didik dahulu untuk masa depan mereka di dunia dan di akhirat dan tidak  larut tanpa tabayyun. Untuk tabayyun perlu waktu, tenaga, otak atik pro dan kontra, pikiran, padahal mereka lah yang menikmati duduk sebagai menteri, bupati, gubernur, anggota dewan, pejabat, dsb. Pekerjaan kita adalah mencerdaskan diri kita dan anak anak kita yang akan hidup di masa yang akan datang yg lebih kompetitif di zaman milenial dan hubngan antar bangsa dan negara. Harus ada prioritas. Dengan skill dan ilmu kita kita membantu mereka yang benar dan mengingatkan serta meluruskan yang salah dengan hasil pendidikan anak anak kita yang siap berkompetisi

Prof Azhar juga mendapatkan undangan makan malam oleh vice chancellor atau rektor University of East London di pusat apartemen mewah pusat kota London daerah Canary Whorf. Selain melakukan observasi dan mengajar mahasiswa , rektor IPI tersebut juga melakukan beberapa wawancara terkait trilogy system. Diantaranya adalah Prof. Fawad Inam sebagai Head of Engineering and Computing Department, yang sepakat dengan konsep tersebut. Dr. David Tann Head of School serta Dr. Aaron Kans sebagai Head of Undergraduate Computing Programmes, juga  menyatakan bahwasanya Bahasa Inggris dan, inner capacity serta online system perlu dikuasai

Prof. Hassan Abdalla, Dean of College of Arts, Technology and Innovation atau wakil rektor UEL dan dekan, yang  pernah diminta jadi menteri tapi dia menolak, menyatakan memang bahasa Inggris dan ICT serta wisdom knowledge sangat mendasar pentingnya, karena itulah yang dibutuhkan dalam zaman now. Gaurav Malik, selaku Senior Lecturer in Computer Systems and Network juga sangat kuat mendukung ide IPI dalam menjadikan trilogy system tersebut sebagai pilar pengembangan generasi muda millennial yang musti memiliki ciri civilized, smart, and skillful.

kunjungan prof azhar inggris 2
Rektor IPI memaparkan perkuliahan selaku visiting professor and observer di School of Technology and Innovation University of East London.

Untuk menerapkan pilar tersebut, IPI telah mengintegrasikan bahasa inggris, ICT, serta penanaman nilai akhlaq pada mahasiswa/i sejak awal semester hingga akhir jenjang perkuliahan agar di kemudian hari, setelah menjadi alumni dan berkecimpung di tengah masyarakat, bisa menjadi pribadi professional dalam karir, berkepribadian luhur, mampu mengoperasikan online system secara bijak dan terampil, dan selamat serta bahagia di dunia maupun akhirat.

 

Penulis: Amhy Faerob

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.