Perjalanan Mahasiswa IPI sebagai “duta Indonesia” di Amerika Serikat
TAGS: fakultas tarbiyah dan keguruanIPImpiSUSI programukm JPC
Bersama Peserta Study of the U.S. Institutes (SUSI)  for Student Leaders program

Mahasiswa IPI, Mursyidin Yusuf,  angkatan pertama di Institut Parahikma Indonesia, program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) ini berbagi pengalamannya selama berada di Amerika Serikat. Dia mengungkapkan, “Alhamdulillah, karena kuliah di IPI, dan berbagai bimbingan dari dosen-dosen Tadris Bahasa Inggris, salah satu dosen MPI yang kesemuanya alumni luar negri, serta Rektor IPI yakni Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A saya bisa menginjakkan kaki di negeri Paman Sam”.

“Prof. Azhar adalah alasan terbesar saya sehingga bisa lulus pada program yang setara dengan Fulbright Program tersebut. Beliau mendukung kami mahasiswanya, pagi hingga malam ia menyampaikan ilmunya tanpa mengenal lelah. Begitulah beliau. Kami tak mampu mendeskripsikan semangat beliau. Kalian bisa menyaksikan UIN Alauddin yang sekarang, itu adalah rintisan beliau dan saya yakin, Institut Parahikma Indonesia akan menjadi kampus hebat di bawah kepemimpinannya”, puji Mursyid.

Tanpa biaya sepeser pun sejak tanggal 24 Juni lalu hingga hari ini, seluruh peserta Study of the U.S. Institutes (SUSI)  for Student Leaders program ini menjalani semua prosedur sebelum ke Amerika, selama berada di sana, dan sampai ke tanah air kembali . Adapun mereka yang dari Indonesia Timur adalah Maria (Maumere), Syafrian (Madura), Reza(Jogja), Indira (Surabaya) dan Mursyid dari Sulawesi.

Dari peserta di seluruh dunia, Mursyid terpilih mengikuti program Religious Freedom and Pluralism yang bertempat di Temple University dengan 5 negara yang berpartisipasi, yaitu India, Iraq, Indonesia, Mesir, dan Libanon. Ada banyak pengalaman mengenai budaya, makanan, hingga wawasan terkait Kebebasan dalam agama dan Pluralisme selama mengikuti event tersebut.

Lokasi yang dikunjungi selama di Amerika diantaranya adalah Pendle Hill di Philadelphia, Temple University. Kedatangan mereka  disambut hangat oleh Permiasphilly (Kumpulan mahasiswa Indonesia di Philadelphia. Philadelphia juga dikenal dengan nama Philly.

Keesokan harinya mereka diarahkan ke Morgan Hall, di kampus yang sama. Mereka diberikan 4 kartu dengan fungsi yang berbeda pula pastinya. Kartu pertama adalah Guest Card MH, sebuah kartu yang menandakan bahwa mereka adalah tamu Morgan Hall. Yang kedua, Temple Student Card, adalah kartu identitas mahasiswa Temple University. Yang ketiga adalah Conference Services Card, kartu yang digunakann agar bisa mengakses segala fasilitas yang ada di Morgan Hall. SEPTA Key Card, kartu ini digunakan ketika hendak pergi dari tempat satu ke tempat yang lainnya menggunakan subway (kereta bawah tanah). Kartu ini mirip dengan kartu ATM. Harus ada uang di dalamnya untuk bisa menggunakannya.

Selama disana, peserta mengikuti beberapa perkuliahan, diantaranya “Introduction to Christian” yang dibawakan oleh Prof. Leonard Swidler. “Setelah kelas tersebut berakhir, kami menuju Arch Street Meetinghouse melakukan kunjungan lapangan. Perlu diketahui bahwa setiap kelas pluralisme berakhir, kita akan dibawa ke tempat yang berkaitan erat dengan kuliah yang kami terima. Disini, kebebasan beragama juga sangat nampak jelas. Orang Amerika tidak selamanya benci Islam.”, ungkap Mursyid.

Di Meetinghouse mereka menonton sebuah film yang mengilustrasikan terbentuknya Pennsylvania dan Philadelphia sebagai kotanya. Film bertajuk Willam Penn Shadow tersebut berdurasi 28 menit dan mereka menikmati jalan ceritanya. Karena semangat dan usaha dari Penn, maka patungnya dibadikan di tengah kota Philadelphia.

Mereka juga mengunjungi beberapa tempat lainnya seperti Christ Church,Logan Square, Swann Memorial Fountain, Love Park, St. Agatha James Church, Pennsylvania dan masih banyak lagi. “Mataku kadang tak berkedip melihat keagungan ini, benar-benar fantastic. Saya tak pernah punya mimpi ingin datang ke tempat tersebut, tapi Alhamdulillah, saya bisa ke sana tanpa memimpikannya. Ini juga berkat kuliah di IPI, lho”, ujar Mursyid yang juga adalah ketua UKM Journalism and Pen Circle di IPI ini.

Disaat libur tiba, kami dibagi menjadi 10 kelompok di tempat berbeda. “Saya dan rekan saya menuju Manna House. Ayah “angkat” kami bernama David dan istrinya bernama Susan. Kami diperkenalkan beberapa area di sana dan kepada siapa makanan-makanan itu diperuntukkan. Mereka juga membuka kesempatan bagi para relawan yang ingin bergabung. Sekarang ada 20 ribu relawan yang bergabung di Manna House.

Dan masih banyak lagi cerita yang tak bisa terungkap disini. “Saya bersyukur kuliah di IPI, dengan dosen-dosen yang luar biasa, program bahasa inggris selama 3 tahun, ilmu agama, profesionalisme tiap jurusan yang dipilih, serta banyaknya aktivitas yang bisa saya lakukan di berbagai organisasi, UKM, membuat saya bisa mewujudkan impian keluar negeri. Thank you very much, IPI. Ayo kuliah di IPI and start your greatest goal here”, pesannya.

Oleh: Amhy Faezarobbani

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.