Kunjungan Pondok Modern Darussalam Gontor (Kampus 6 Ittihadul Ummah Poso)

Kunjungan Pondok Modern Darussalam Gontor (Kampus 6 Ittihadul Ummah Poso)

kunjungan-pondok-modern-darussalam-gontor

Pada tanggal 12 Desember 2018 Pimpinan, Pembina, serta Santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor (Kampus 6 Ittihadul Ummah Poso) mengadakan kunjungan ke kampus Institut Parahikma Indonesia. Rombongan ini  disambut oleh sivitas akademika serta  mahasiswa/i Institut Parahikma Indonesia. Pondok pesantren ini membangun kualitas yang berbasis bahasa Arab, kemudian santriwati harus bisa mengajar.  Adapun tujuan mereka berkunjung ke Institut Parahikma Indonesia yaitu untuk mendapatkan gambaran/profil dari alumni Gontor yang mendirikan Institut Parahikma Indonesia yaitu Prof. Dr. Azhar Arsyad MA.

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (Kampus 6 Ittihadul Ummah Poso) mengatakan bahwa “Perkembangan santri di Poso masih stabil, belum mempunyai peningkatan yang signifikan, dan kampus 6 Poso di harapkan bisa menjadi benteng umat Islam di Poso”.

kunjungan-pondok-modern-darussalam-gontor-peserta-antusias

Adapun pertanyaan yang sempat di lontarkan oleh salah satu santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu tentang Kurikulum apa yang di gunakan di Institut Parahikma Indonesia dan bagaimana metode pengajarannya.

Kemudian pertanyaan tersebut dijawab oleh pak Mansyur (Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Islam), beliau mengatakan bahwa “Kurikulum yang di gunakan di Institut Parahikma Indonesia yaitu berbasis KKNI  yang ditetapkan oleh pemerintah, karena salah satu  kelebihan dari kurikulum ini adalah bisa membantu mahasiswa/i dalam menguasai triologi Institut Parahikma Indonesia yaitu (ICT, Bahasa Inggris, dan ilmu hikmah berbasis Qur’an dan hadits). Di IPI ada Lembaga Kursus Bahasa Arab yang mengacu pada buku Dasar-Dasar Penguasaan Bahasa Arab yang ditulis oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad MA., dan ada pula Lembaga Kursus Bahasa Inggris yang berpatokan pada buku Your Basic Vocabulary yang juga ditulis oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad MA. Di IPI ada juga ada kursus kitab kuning dan kaligrafi”, tambahnya.

Disela acara mahasiswi IPI, Wafiq Azizah mempersembahkan beberapa lagu, begitupula perwakilan santriwati gontor. Meskipun siang hari, hiburan tersebut memeriahkan suasana dan merekatkan persaudaraan antara mahasiswa/i IPI dan santriwati yang berkunjung saat itu.

Pimpinan Pesantren Modern Darussalam Gontor dalam closing statementnya menyatakan, “Seluruh santri dan santriwati Gontor harus menguasai bahasa Inggris karena  mahkota Gontor adalah bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Karena untuk menguatkan agama harus bisa bahasa Arab dan bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional dan kemudian digunakan untuk menerjemahkan buku-buku yang berbahasa Inggris.”

Oleh: Nurul Qayyum (UKM JPC)

Seminar Scientific Meeting in Islamic Finance

Seminar Scientific Meeting in Islamic Finance

seminar-scientific

Seminar ini bertema “Scientific Meeting in Islamic Finance“, yang di laksanakan pada hari Selasa tanggal 11 Desember 2018 di gedung aula lantai 2 kampus 1 Institut parahikma Indonesia (IPI), Gowa. Seminar ini diadakan untuk membangkitkan dan meningkatkan semangat serta pengetahuan seluruh mahasiswa/i dan sivitas akademika IPI sekaligus menyambut salah satu tim asesor dari BAN-PT .

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa/i prodi ekonomi syariah mulai dari angkatan 1 sampai angkatan 3 dan juga beberapa dosen dan staf kampus yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mereka tetap berinisiatif untuk hadir karena merupakan imbauan sekaligus kesadaran mereka bahwasanya ilmu itu penting dan guna memperlancar proses akreditasi prodi ekonomi syariah itu sendiri.

Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada seluruh peserta yang hadir akan pentingnya membangun ekonomi syariah itu mulai dari kelebihannya apa, sejarahnya bagaimana, perbedaan antara syariah dan konvensional, apa pentingnya ekonomi syariah itu, serta mengapa ekonomi syariah bisa bertahan sampai sekarang ini.

seminar-scientific-peserta

Adapun yang sempat menjadi narasumber ataupun pemateri pada seminar kali ini adalah Dr. Euis Amelia, M.Ag (dosen di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga sebagai salah satu Asesor dari BAN-PT) dan Dian Masyita, SE., MT., ph.D (Dosen Universitas Padjajaran sekaligus termasuk dalam 50 tokoh yang paling berpengaruh di Indonesia).

Adapun materi yang sempat dibawakan oleh ibu Dr. EUIS AMELIA, M.Ag antara lain mengenai:

  1. Cara membangun ekonomi islam yang akomodatif di revolusi industri 4.0, ekonomi islam. Jadi ekonomi islam itu adalah suatu sistem aktivitas ekonomi yang didasarkan pada nilai-nilai syariah (Al-qur’an, Sunnah, Ijma, Qiyas, Ijtihad). Nah, Ekonomi syariah sekarang yang berkembang lebih mengarah kepada Ijtihad. Adapun tujuan dari ekonomi syariah ialah falah (yakni mewujudkan bagaimana kehidupan orang itu bisa sejahtera), material dan spiritual, mensejahterkan antara dunia dan akhirat.
  2. Tawassul yaitu keseimbangan antara resiko dengan pendapatan yang artinya No (Riba, Gharar,Maysir, Haram Khillu). Keuangan syariah tidak boleh berinvestasi di perusahaan rokok karena bertentangan dengan hiffsuddin, dimana harus berorientasi pada maslahah dan paradigma ekonomi islam yang berbasis bagi hasil , dan tabarru (tolong menolong). Ekonomi islam itu di peroleh dari hasil bagi usaha bisnis yang di jalankan harus halal (toyyib).
  3. Komoditas kalau berbisnis harus halal.
  4. Dimana uang dalam ekonomi islam itu bukanlah komoditas melainkan hanya alat tukar , uang itu tidak bernilai bagi uang itu sendiri maka harus dibelanjakan agar memiliki nilai. Menurut imam Al-Ghozali bahwa sanya pada zaman dahulu yang berfunsi sebagai alat tukar yakni dinar dan dirham yang harus di pertukarkan agar memiliki nilai ibarat cermin yang bisa merefleksikan warna dimana uang itu harus digulirkan yakni dimanfaatkan.
  5. Ada kewajiban mengeluarkan zakat yakni zakat mal dan zakat fitrah, dimana zakat tersebut memiliki fungsi membersihkan/menyucikan dan memiliki fungsi distributif.
  6. Ayat yang menerangkan tentang riba yakni QS. Ar- Rum ayat 29, An-Nisa 161, Ali- Imran 130, dan Al-Baqarah.

Contoh negara yang mendirikan bank syariah yakni di Inggris, Cina dan Filipina, maka kondisi keuangan di negara tersebut teratur dengan baik. Kalau mempelajari tentang ekonomi syariah berarti kita harus mempelajari 2 ilmu yakni ekonomi dan syariah seperti yang terdapat didalam UUD ayat 33 tahun 1945 tentang bagaimana cara memakmurkan ekonomi syariah, adapun fungsi kita sebagai masyarakat yakni kita harus mentransformasikan nilai- nilai ekonomi islam di dalam kehidupan.

Sebab saat ini kurang lebih 4 triliun utang Indonesia yang harus di lunasi, di era MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) terdapat 98 persen kelompok usaha kecil di indonesia dan bank syariah berjumlah 12 di Indonesia, zakat pun mulai dikembangkan menjadi pinjaman itu di tahun 1976 menjadi Islamic Development Bank, yang sekarang harus didirikan yakni hotel syariah, koperasi syariah, food center syariah, pengembangan zakat dan wakaf menjadi cash wakaf (uang dan saham), demi memajukan ekonomi syariah dimasa yang akan datang.

 

seminar-scientific -antusias-peserta

Pemateri kedua yakni ibu Dian Masyita, SE.MT., phD. Penduduk Indonesia yang saat ini berjumlah 260 juta jiwa menduduki urutan ke 4 dengan tingkat populasi terbanyak sedangkan tingkay kekayaan mata uang menduduki posisi ke 20 GDP. Untuk mengetahui hal tersebut kita harus banyak membaca dan menonton siaran berita luar negeri untuk mengetahui pekembangan ekonomi di setiap negara, dimana muslim ini diadu domba dengan kebodohan sehingga tidak produktif, ujarnya.

Pada seminar kali ini teerdapat 4 pertanyaan yang bersumber dari perwakilan seluruh angkatan yakni:

  1. Bagaiman cara mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia agar menjadi Negara maju ?
    Jawab: kita harus sabar, kemudian pilihlah wakil rakyat atau pemimpin yang baik dan berbuat adil, kita harus bekerja lebih cerdas, pintar dan lebih efisien.
  1. Hukum menerima gaji dari uang riba?
    Jawab: itu harus di hindari sebab hukumnya haram.
  1. Bgaiman supaya semua bank di Indonesia itu dijadikan bank syariah ?
    Jawab: mustahil, karena bank konvensional itu menyediakan keperluan masyarakat, semua harus ada dukungan pemerintah, yang sudah ada aturannya di UU perbankan no 21 tahun 2008 yang sebelumnya UU no 10 tahun 1998 kemudian PP no 72 tahun 1992. Jadi kita tidak boleh menghapus bank konvensional begitu saja karena adanya aturan yang mengikat tadi. Kita juga harus membuat pengupdetan tentang komunitas yang membangun ekonomi syariah seperti KNES, MES OJK dan IAEI, dll.
  1. Apakah pemimpin harus bersikap otoriter dalm kondisi tertentu?
    Jawab: perlu, sebab di dalam suatu kerajaan atau perusahaan seumpama ada satu perusahaan yang direkturnya itu mreninggal dunia maka akan diturunkan jabatannya kepada anaknya, jadi terkadang pemimpin perlu otoriter dalam kondisi tertentu.

Sebagai kesimpulan kita harus belajar, belajar, belajar, membaca dan berkarya.

Motto pada seminar kali ini “MAJU BERSAMA EKONOMI SYARIAH “.

Penulis: Emi Sri Rahayu Fatimah

Seminar Kewirausahaan Kalla Goes to Campus Institut Parahikma Indonesia

Seminar Kewirausahaan Kalla Goes to Campus Institut Parahikma Indonesia

kallo-goes-to-campus-ipi

Seminar kewirausahaan dalam event Kalla Goes To Campus Institut Parahikma Indonesia ini berlangsung pada hari Kamis, 6 Desember 2018. Kegiatan ini berlangsung di kampus 2 Institut Parahikma Indonesia dan dihadiri oleh pembina yayasan, rektor, beberapa civitas akademika dan seluruh mahasiswa/i Institut Parahikma Indonesia.

Pada seminar Kalla Group Goes To Campus Institut Parahikma Indonesia dengan tema “Membangun Kapasitas dan Kompetensi di Dunia Kuliah agar Siap Menghadapi Persaingan Masa Depan”, Koordinator Human Capital Kalla Group Syamril, S.T., M. Pd menjadi pembicara dan juga inspirator seluruh audiens.

suasana-kallo-goes-to-campus-ipi

Dalam sambutannya Rektor Institut Parahikma Indonesia, Prof. Dr. Azhar Arsyad, MA., mengatakan usaha adalah satu-satunya jalan karena saya lahir dari usaha, sejak mahasiswa saya sudah memulai usaha berlian. Akhirnya saya berhasil dan membeli tanah dimana-mana termasuk rumah. Olehnya itu yang akan datang mari kita berwirausaha.

Panitia acara ini juga menampilkan video tentang perkembangan pesat yang dibuat oleh Kalla Group baik dalam sektor industri, pendidikan, otomotif, dll. Dalam salah satu scenenya, Jusuf Kalla selaku pemilik Kalla Group dimotivasi oleh orang tuanya untuk percaya diri dalam berwirausaha, bahkan awalnya JK hanya memiliki satu karyawan. Hal yang cukup inspiratif dari perjuangan JK adalah di saat dia harus mengubah mobil import dengan mempercayakan karyawan yang juga montir otomotif menjadi mobil yang bisa bersaing di pasaran.

pemateri-kalla-goes-to-campus-syamril

Syamril, S.T., M. Pd. dalam pemaparan materinya membahas bahwa dalam berwirausaha persaingan sangat ketat, sehingga potensi penganguran bertambah. Kuncinya adalah meningkatkan daya saing. Sedangkan solusi untuk mengurangi pengangguran adalah membangun wirausaha muda. Untuk sukses dalam membangun wirausaha memiliki kunci, yakni Do’a, Usaha, Ilmu, dan Team Work yang disingkat DUIT, tambahnya.

Syamril juga mengisahkan perjalanan hidupnya yang sejak SD sudah berwirausaha dengan cara menjual kue, es lilin, dsb. Hal itu tak membuatnya minder, justru pengalaman itulah yang mengasah kepercayaan dirinya dan kemampuan berwirausaha. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa tingginya angka pengangguran dan saat bersaing di dunia kerja tidak hanya dilihat dari prestasi akademik, melainkan juga pengalaman menjabat kepanitiaan, berorganisasi, dan juga sikap.

Kedepannya, Syamril yang juga kini menjabat sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah membuka peluang pada mahasiswa/i IPI untuk melakukan PKL di sekolah tersebut atau di perusahaan yang dikelola oleh Kalla Group. Tentu saja hal ini disambut meriah dan hangat oleh peserta seminar, mengingat tahun depan mahasiswa/i IPI mulai KKN dan PKL. Kesemuanya akan dibuat secara resmi dengan diadakannya MoU antara Kalla Group dan IPI.

Penulis: Irfan (UKM JPC)

Acara Pelantikan Rektor Institut Parahikma Indonesia Periode 2018-2023

Acara Pelantikan Rektor Institut Parahikma Indonesia Periode 2018-2023

pelantikan-rektor-2018

Berdasarkan surat edaran dari KEMENAG RI, surat pemberitahuan UIN Alauddin Makassar mengenai perizinan bagi Prof Dr Azhar Arsyad.,MA  selaku rektor Institut Parahikma Indonesia (IPI) Gowa, serta SK Yayasan maka beliau dilantik selaku rektor dengan masa jabatan 2018-2023 di Makassar, Jl. Tamangapa raya, Gedung serbaguna Al-mubarakah dan Kapus 2 IPI, Kamis (6/12/2018).

Bapak Prof Dr Azhar Arsyad.,MA merupakan Dewan guru besar di UIN Alauddin Makassar sekaligus mantan rektor UIN Alauddin Makassar selama dua periode. Di masa kepemimpinannya, beliau berhasil mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin menjadi UIN Alauddin, dan beliau ini  juga merupakan pembina utama golongan (4/e).

Dewan guru besar UIN Alauddin Makassar itu dilantik sebagai rektor dengan periode 2018-2023 dengan dibacakannya SK oleh Aminah yang juga dosen di IPI, lalu diambil sumpahnya oleh Ibu ketua pembina yayasan Institut Parahikma Indonesia, yakni Ibu Hajja Hikmah Mahmuda. Pelantikan tersebut disaksikan bersama oleh Dr. Abd. Muis Said, M,Ed. TESOL  beserta jajaran dosen, staf, dan seluruh mahasiswa/i Institut Parahikma Indonesia.

rektor-memberikan-sambutan

“Saya tidak akan berhasil membangun IPI tanpa ada dukungan dari kalian dalam hal ini kepada para mahasiswa-mahasiswi dan para dosen dan staf di Institut Parahikma Indonesia” ujar Prof. Azhar dalam sambutannya. Selain itu, beliau juga mengisahkan perjuangannya di saat menjabat sebagai rektor UINAM yang tidak terlalu didukung awalnya bahkan disepelekan, namun pada akhirnya cibiran itu berubah menjadi tepuk tangan. Seluruh civitas akademika berharap dengan kepemimpinan beliau, nantinya IPI akan maju dan mencetak alumni yang berperadaban, cerdas, dan terampil.

Penulis: SUMARNI (UKM JPC)

Bazar dan Diskusi Publik BEM IPI

Bazar dan Diskusi Publik BEM IPI

bazar-dan-diskusi-publik-ipiMalam Sabtu digunakan oleh mahasiswa/(i) Institut Parahikma Indonesia (IPI) Gowa khususnya yang berkecimpung di BEM IPI Gowa ini dengan menggelar bazar yang berbeda dari bazar-bazar sebelumnya. Bazar ini bertempat di Kafe Coffee Tetta Jl.  Mustafa Daeng Bunga, Paccinongan, Somba Opu pada tanggal 30 November 2018 pukul 19.00 WITA.

bazar-dan-diskusi-publik-ipi-peserta

Kali ini, teman-teman dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Parahikma Indonesia (IPI) Gowa menggelar Diskusi Publik yang bertema: “Kepeloporan Mahasiswa dalam Mengubah Nasib Bangsa”, ini sungguh luar biasa dan memperoleh apresiasi dari para  tamu yang berkunjung. Panitia menghadirkan dua pemateri handal yaitu Muh. Asriady, S.Hd., M.Th.I dan Takdir Khair, S.Pd.I., M.Pd yang juga adalah dosen dari Institut Parahikma Indonesia.

Asriady memandang bahwa “Pelopor adalah seseorang yang merupakan salah satu yang pertama untuk daerah tertentu, sehingga ia harus menemukan jalan tanpa memperoleh manfaat dari pengalaman orang lain. pelopor juga bermakna berjalan terdahulu atau di depan, perintis dan pembuka jalan”. Dia pun menambahkan bahwa pelopor itu mimpinya besar, kinerjanya hebat, dan prestasinya dahsyat. Ia mengutarakan 3 hal yang perlu di perkuat dalam kepeloporan, yaitu:

  1. Karakter yang tangguh artinya akhlak yang tangguh.
  2. Kompetensi artinya berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.
  3. Literasi artinya keterbukaan dengan ICT, baca, dan sebagainya.

Beda halnya dengan Takdir yang menyatakan bahwa dalam memandang kepeloporan, seharusnya kita melihat dari segi buruknya dan dibalik itu kita akan melihat hal yang lebih baik. Jika ingin menjadi pelopor jadilah mahasiswa yang bernilai. Selain itu jadilah mahasiswa yang berani tampil beda dari mahasiswa lainnya, prinsip yang harus di pegang sebagai mahasiswa yaitu lakukan hal yang biasa, tapi menurut orang lain itu luar biasa”.

bazar-dan-diskusi-publik-ipi-foto-bresama

Adapun pertanyaan yang sempat diajukan datang dari beberapa tamu bazar yang sempat berhadir yakni dari Maulidatul Mukarramah, dan Nur Hadisa. Diskusi ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Semoga nuansa ilmiah tetap hidup dikampus yang bercirikan “berperadaban, cerdas, dan terampil” ini.

Oleh: Nurul Qayyum (UKM JPC)