Menjaga Lingkungan bersama BINE Educative Expedition (BEE) 2019 tingkat Nasional
TAGS: BINE Makassarfakultas tarbiyah dan keguruanIPItbi

Misi menjaga lingkungan dan memberi inovasi bagi pengembangan masyarakat ini diinisiasi oleh BINE. BINE adalah lembaga kepemudaan yang berorientasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di indonesia melalui manuver inovatif dan inspiratif. BINE adalah salah satu NGO yang ada di Makassar, namun peserta yang dilibatkan adalah pemuda/i dalam kancah Nasional melalui proses seleksi. Dari 60 pendaftar, yang lolos seleksi hanya 14 orang termasuk peserta yang berasal dari Jawa Timur, Malang, Sulawesi Selatan, dsb. Kegiatan kali ini berfokus pada Kampung Sayur, Kanreapia, Tombolo Pao,  Gowa.

BINE bergerak dalam tiga bidang yaitu sosial, pendidikan, dan kewirausahaan sosial. Untuk saat ini BINE sudah berdiri selama 1 tahun, sekretariat di Gowa tapi fokus aktivitas di Makassar. Dalam tim inti, saat ini ada 15 orang yang terbagi dalam beberapa program dan officer dengan jenis kegiatan yang disebut BINE Educative Expedition (BEE) 2019.

Di hari pertama, tanggal 30 November 2019 diadakan workhop dengan tema “zero waste and pitching idea”. Pada workshop zero waste peserta diperlihatkan tentang keadaan lingkungan saat ini. Lingkungan saat ini yang buruk termasuk dengan kurang baiknya pengelolaan sampah yang mengakibatkan banyaknya sampah-sampah yang berserakan di mana-mana. Melihat hal yang miris ini, melalui workshop yang diadakan bagi para peserta BEE 2019 diharapkan dapat menerapkan gaya hidup zero waste dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan membawa tumbler guna mengurangi sampah plastik.

Selanjutnya, pada materi pitching idea, peserta diajari bagaimana cara memetakan masalah dan mencari solusi pada kegiatan ekspedisi nanti. Selain materi pitching idea pada hari pertama itu juga diadakan simulasi cara pitching idea dengan mengambil masalah sosial yang dialami dalam kehidupan sehari-hari yang dibagi ke dalam 3 kelompok.

Pada hari ke dua, 01 Desember 2019, para peserta diajak melakukan ekspedisi di lingkungan masyarakat yaitu di Kampung sayur. Kegiatan ini diawali dengan melakukan kunjungan ke rumah koran, kemudian mengeksplor kampung sayur dan berkomunikasi dengan masyarakat untuk mencari masalah-masalah yang dihadapi selama ini.

Perjalanan lalu dilanjutkan menuju perpustakaan kambing. Di perpustakaan ini pemilik rumah kambing menjelaskan latar brlakang hadirnya perpustakaan kambing dan rencana kerja yang akan mereka lakukan kedepannya untuk masyarakat sekitar.

Di sore harinya setelah semua peserta melakukan ekapedisi, para tim masing-masing memetakan masalah yang didapatkan melalui ekspedisi, kemudian menerapkan materi pitching idea. Pada kegiatan ini para tim menghasilkan satu inovasi yang dapat diterapkan untuk kemajuan masyarakat. Adapun inovasi yang didapatkan dipresentasikan di depan para tim, pemilik rumah koran, pemilik perpustakan kambing dan masyarakat umum

Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IPI, Rezki Amir, yang lolos mengikuti kegiatan ini setelah melewati seleksi ketat menyampaikan kesannya bahwa melalui kegiatan ini dia mendapatkan teman-teman yang mempunyai visi dan misi yang sama dalam penanganan masalah sosial lingkungan. Melalui kegiatan ini pula, dia bisa bertemu dengan  teman-teman dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan bahkan dari luar Sulawesi, yang dengannya bisa saling belajar tentang penanganan masalah lingkungan di daerah masing-masing.

Dia pun berbagi kesan, “bagi pemuda yang peduli akan masalah lingkungan dan ingin berkontribusi dalam membantu pemerintah  dalam mendukung kegiatan SDG’s (Sustainable Development Goals), kegiatan ini bisa menjadi rekomendasi karena kita bisa mendapatkan cara yang berbeda untuk berbakti kepada masyarakat dalam bidang lingkungan”.

“Menurut saya, dengan ikut kegiatan BEE ini saya diberi kesempatan untuk terjun langsung ke masyarakat sehingga dapat mengetahui masalah-masalah yang selama ini dialami masyarakat. Delegasi BEE ditantang untuk memberikan solusi serta inovasi dari masalah yang didapatkan dari ekapedisi yang menurut saya ini penting karena hanya dalam kurun waktu berdurasi 2 -3 jam, kita dituntut untuk mencari solusi yang menjadi tuntutan bagi pemuda untuk bisa bekerja cepat dan tepat. Kegiatan ini juga mambantu saya bagaimana cara mengeksplorasi dan menuangkan ide menjadi sebuah aksi inovatif”, ungkap Rezki Amir.

Penulis: Eki (UKM JPC)

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.